ORGANISASIUMUM

AMPAS dan PT Garam Satukan Langkah Kejar Swasembada 2027

SAMPANG – Upaya mengejar swasembada garam nasional 2027 mulai digerakkan lebih serius. Aliansi Masyarakat dan Pemuda Sampang (AMPAS) memilih turun langsung membangun komunikasi dengan PT Garam (Persero), bukan sekadar menyuarakan tuntutan dari luar.

Pertemuan yang berlangsung di Manyar, Gresik, Kamis (23/4/2026), menjadi titik awal penyatuan arah antara gerakan masyarakat dan BUMN sektor garam tersebut.

Ketua Umum AMPAS, Moh. Agus Efendi, menegaskan bahwa dorongan swasembada bukan lagi isu lama yang terus diulang, tetapi harus diwujudkan lewat kerja nyata.

BACA JUGA :  Satgas Pra-TMMD Ke-124 Ukir Asa: Dinding Sekolah Disulap Lebih Bersih di Pelosok Batokarang

“Kalau hanya bicara, swasembada itu tidak akan pernah tercapai. Harus ada keberanian menata ulang dari hulu ke hilir,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan garam di Madura—khususnya Sampang—bukan semata produksi, tetapi juga menyangkut pengelolaan lahan, kualitas, hingga distribusi yang kerap tidak berpihak pada petani.

BACA JUGA :  Rasa Letih Terbayar, Jalan Indah Terhampar: Kebersamaan TNI dan Rakyat di Batu Karang

Karena itu, AMPAS mendorong agar negara hadir lebih kuat melalui PT Garam, tidak hanya sebagai pelaku usaha, tetapi juga sebagai pengendali arah kebijakan di sektor strategis ini.

Di sisi lain, Sekretaris Direksi PT Garam, Indra Kurniawan, melihat langkah AMPAS sebagai sinyal positif dari daerah penghasil garam.

“Ini bukan sekadar dukungan, tapi bentuk keterlibatan langsung masyarakat dalam memperkuat industri garam nasional,” katanya.

BACA JUGA :  Babinsa Jrengik Dampingi Pendistribusian Makanan Bergizi Gratis untuk Siswa di Kec. Jrengik

Dalam forum tersebut, AMPAS menegaskan sikapnya: mendukung penuh target swasembada 2027, menolak praktik yang merugikan petani, serta siap mengawal kebijakan agar benar-benar berpihak pada produksi dalam negeri.

Bagi AMPAS, sinergi ini bukan seremoni. Mereka ingin memastikan hasilnya terasa di lapangan—produksi meningkat, impor ditekan, dan petani garam tidak lagi berada di posisi paling lemah dalam rantai industri.

(Rd)

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button